Prof Wawan Wahyuddin

Renungan · Piala Dunia 2026

Bola Dakwah

Transformasi Nobar Menjadi Zisbar dan Sobar

Dini hari kemarin, dunia menahan napas. Di Stadion MetLife, New Jersey, dua kesebelasan terbaik jagat raya — Spanyol dan Argentina — bertarung hingga babak tambahan waktu. Skor akhir 1-0 untuk Spanyol, lewat gol Ferran Torres di menit ke-106, cukup untuk mengubur mimpi Lionel Messi dan kawan-kawan meraih gelar juara dunia. Jutaan pasang mata di seluruh penjuru bumi menatap layar yang sama, meneriakkan nama yang sama, menahan degup jantung yang sama.

Fenomena ini menyisakan satu pertanyaan bagi siapa saja yang mau merenung: jika dunia bisa sedemikian kompak berkumpul demi bola yang menggelinding di lapangan hijau, mengapa kita tidak menjadikan momentum itu sebagai pintu masuk dakwah? Nonton bareng — nobar — bisa kita ubah maknanya. Bukan sekadar berkumpul menyaksikan si kulit bundar, tetapi menjelma menjadi zisbar: zakat, infaq, sedekah bareng. Dan menjelma pula menjadi sobar: shalat bareng. Kerumunan yang tadinya hanya menyatu dalam sorak-sorai, kini menyatu pula dalam sujud dan uluran tangan kepada sesama.

Dunia yang Terpusat pada Si Bola Bundar

Ada keunikan yang jarang disadari: perhatian dunia terpusat pada benda yang bentuknya bundar, dan perhelatan itu sendiri digelar di atas dunia yang juga bundar. Ini seolah menjadi isyarat, bahwa apa pun bentuk perputaran hidup manusia — sebundar apa pun ia berputar, seramai apa pun ia dikerumuni banyak orang — pada akhirnya semua akan kembali berputar menuju satu titik yang sama: kepada Sang Pencipta. Bola berputar di lapangan, dunia berputar pada porosnya, dan hidup manusia pun berputar menuju ajal yang telah ditetapkan.

Disiplin Waktu: Pelajaran dari Peluit Wasit

Dalam sepak bola, waktu adalah hukum yang tak bisa ditawar. Ketika wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan usai, tak ada pemain sehebat apa pun yang bisa memprotes untuk meminta tambahan waktu semaunya sendiri. Sehebat Messi, seberuntung apa pun Argentina malam itu, ketika peluit akhir dibunyikan, permainan selesai — mau tak mau, siap tak siap.

Begitu pula hidup ini. Ketika Izrail datang menjemput, tak ada tawar-menawar. Tak peduli seberapa betah kita di dunia, seberapa banyak rencana yang belum tuntas, ketika waktunya tiba, kita tak berkutik. Justru di sinilah letak nilai dakwah dari sebuah pertandingan: ia mengajarkan kita untuk menghargai setiap detik yang tersisa, karena waktu tidak pernah menunggu siapa pun.

Sedekah Sambil Nonton Bola
Sedekah Sambil Nonton Bola — ketika lapangan hijau menjadi ladang kebaikan.

Extra Time: Kesempatan yang Tak Boleh Disia-siakan

Menariknya, sepak bola juga mengenal babak tambahan waktu — extra time. Ketika skor imbang di waktu normal, para pemain dan pelatih diberi kesempatan tambahan untuk memperbaiki strategi, mengejar ketertinggalan, mengubah keadaan. Final kemarin membuktikan itu: gol penentu justru lahir di menit ke-106, jauh melampaui waktu normal.

Umur yang Allah berikan kepada kita pun ibarat extra time yang terus mengalir. Setiap hari yang kita lalui adalah kesempatan tambahan untuk memperbaiki strategi hidup, menambal amal yang bolong, mengejar ketertinggalan ibadah. Jangan sampai kesempatan ini disia-siakan, sebab tak ada yang tahu kapan peluit panjang kehidupan akan dibunyikan.

Sebelas Lawan Sebelas: Iman Melawan Kesebelasan Setan

Dalam sepak bola, sebelas pemain bertarung melawan sebelas pemain dari kesebelasan lawan. Menariknya, jika kita menjumlahkan rukun iman yang enam dan rukun Islam yang lima, jumlahnya genap sebelas. Sebelas fondasi keyakinan dan amal ini adalah “starting eleven” yang setiap saat harus kita turunkan ke lapangan kehidupan, untuk berhadapan dengan “kesebelasan setan” yang tak pernah absen menyusun strategi menjerumuskan manusia.

Bedanya, pertandingan melawan setan ini tidak mengenal jeda musim. Setiap waktu adalah babak baru, setiap detik adalah peluang bagi lawan untuk mencuri gol berupa kelalaian, kemaksiatan, atau kesombongan. Maka iman dan ibadah kita harus selalu dalam formasi terbaik, siap bertahan sekaligus menyerang.

Jadwal Pertandingan dan Jadwal Shalat

Selama Piala Dunia berlangsung, jutaan orang rela mengatur jadwal hidupnya demi tidak ketinggalan satu pertandingan pun — bangun tengah malam, begadang, menyusun waktu istirahat mengikuti jadwal kick-off. Alangkah indahnya jika kedisiplinan yang sama kita terapkan untuk shalat lima waktu, serta untuk waktu-waktu menunaikan zakat, infaq, dan sedekah. Jika jadwal siaran bola saja bisa kita hafal luar kepala, semestinya adzan yang berkumandang lima kali sehari jauh lebih layak menjadi pengingat yang kita sambut dengan segera.

Jangan Terlena, Sebelum Penyesalan Datang

Sorak-sorai kemenangan dan tangis kekalahan di final malam itu hanya berlangsung sesaat. Esok hari, dunia akan kembali ke rutinitasnya, dan gegap gempita itu perlahan memudar. Begitu pula gemerlap dunia yang sering membuat kita terlena. Ketika ajal tiba dan ruh berpisah dari raga, penyesalan yang muncul tak akan ada tandingannya. Saat itu, permohonan untuk dikembalikan ke dunia bukan lagi untuk sekadar nobar menonton pertandingan, melainkan permohonan untuk berkesempatan menjadi hamba yang saleh — sebagaimana firman Allah yang termaktub dalam surah Al-Munafiqun ayat 10, yang mengabarkan penyesalan orang yang telah wafat, berharap ditangguhkan sedikit waktu saja agar bisa bersedekah dan tergolong orang-orang yang saleh.

Kisah NyataKetika Gagasan Berubah Jadi Kenyataan

Menariknya, apa yang selama ini terasa seperti gagasan di atas kertas, ternyata sudah mulai diwujudkan. Pada Sabtu, 1 Agustus 2026, Stadion Utama Gelora Bung Karno akan menjadi saksi laga persahabatan antara Aston Villa — juara Liga Europa 2025/26 — melawan Indonesia All Stars. Yang membuat laga ini istimewa bukan hanya nama besar yang bertanding, melainkan semangat di baliknya: BAZNAS RI, Lembaga Ta’mir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dan Sound Rhythm berkolaborasi menghadirkan tajuk “Sedekah Sambil Nonton Bola”.

Setiap lembar tiket, mulai dari Rp250.000, bukan sekadar akses masuk stadion, melainkan wujud sedekah yang disalurkan lewat BAZNAS. Di sinilah “nobar” benar-benar bertransformasi menjadi “zisbar” — penonton yang datang bukan cuma untuk bersorak, tetapi juga untuk berbagi. Sinergi lembaga zakat, lembaga ta’mir masjid, dan penyelenggara hiburan olahraga dalam satu panggung yang sama membuktikan bahwa dakwah dan sepak bola bukan dua dunia yang terpisah — keduanya bisa dirangkul dalam satu langkah yang sama: menghadirkan manfaat bagi sesama sambil menikmati indahnya permainan.

Semangat ini pula yang disampaikan oleh Ketua BAZNAS Banten, Prof. Dr. Wawan Wahyuddin, M.Pd. Beliau menegaskan bahwa nobar sejatinya sudah baik karena mempererat kebersamaan, namun akan jauh lebih bermakna jika dipadukan dengan ZIS Bar — Zakat, Infak, Sedekah Bareng. Menurutnya, melalui dakwah yang ringan dan menyenangkan seperti inilah kesadaran berzakat dibangun, sehingga harapannya semakin banyak mustahik yang kelak bertransformasi menjadi muzakki.

Ketua BAZNAS Banten

Pernyataan ini menegaskan bahwa gagasan “Bola Dakwah” bukan sekadar romantisme kata-kata, melainkan visi yang juga digaungkan langsung oleh para pengelola amanah zakat di lapangan. Semoga ikhtiar semacam ini terus tumbuh dan menular ke setiap nobar di penjuru negeri, sehingga setiap kerumunan yang berkumpul menyaksikan si kulit bundar, pada saat yang sama juga menjadi kerumunan yang menebar kebaikan.

PenutupSebuah Lutut yang Menyentuh Rumput

Ada satu gambar yang selalu terulang setiap kali seorang pemain merayakan momen terbaiknya: ia berlutut, tangan terentang ke langit, seolah waktu berhenti sejenak. Lamine Yamal, bintang muda yang mengantar Spanyol hingga ke puncak Piala Dunia 2026, punya selebrasi khas semacam ini — berlutut di atas rumput, tangan membentang lebar, sebelum akhirnya bangkit kembali berlari bersama rekan-rekannya.

Lamine Yamal bersujud syukur merayakan kemenangan
Lamine Yamal berlutut merayakan kemenangan — sebuah lutut yang menyentuh rumput, pengingat akan sujud syukur.

Terlepas dari makna pribadi yang ia bawa dalam gestur itu, bagi kita gambar ini bisa menjadi pengingat yang indah: bahwa di puncak pencapaian sekalipun, sikap yang paling pantas ditunjukkan bukanlah kesombongan, melainkan menunduk — merendah, bersyukur, seolah berkata bahwa semua ini bukan semata hasil usaha sendiri. Dalam Islam, kita mengenalnya sebagai sujud syukur: sebuah lutut yang menyentuh bumi setiap kali nikmat dan kemenangan singgah, sebagai pengakuan bahwa segala kemenangan sejatinya datang dari-Nya.

Maka biarlah setiap gol yang tercipta, setiap trofi yang diangkat, dan setiap sorak kemenangan di layar nobar kita, senantiasa mengingatkan pada satu hal yang sama: pada akhirnya, kepala yang tertunduk lebih mulia daripada dada yang membusung.

Maka, mari jadikan momentum Piala Dunia ini sebagai ladang dakwah. Ubah nobar menjadi zisbar dan sobar. Jadikan kerumunan menjadi jamaah. Jadikan sorak-sorai menjadi dzikir. Sebab pada akhirnya, kemenangan sejati bukan hanya diukur dari trofi yang diangkat di lapangan, melainkan dari bekal yang kita bawa pulang menghadap Sang Pemilik Kehidupan.

Wallahu a’lam bishawab.

× Sedekah Sambil Nonton Bola - tampilan penuh