Prof Wawan Wahyuddin

Menjemput Berkah di Sisa Usia: Jalan Sunyi Prof. Wawan Wahyuddin

Januari 2026 datang tanpa gegap gempita yang berlebihan di meja kerja Prof. Dr. H. Wawan Wahyuddin, M.Pd. Bagi pria yang telah kenyang makan asam garam dunia pendidikan ini, pergantian tahun bukan sekadar rotasi angka, melainkan sebuah pertanggungjawaban vertikal.

Setahun penuh di 2025, ia telah menanggalkan jubah kebesaran Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten untuk mengenakan rompi pengabdian di BAZNAS Provinsi Banten. Sebuah lompatan yang bagi sebagian orang dianggap “turun gunung,” namun bagi Prof. Wawan, ini adalah puncak pendakian spiritualnya.

Antara Menara Gading dan Realitas Akar Rumput

Merefleksikan 12 bulan di tahun 2025, Prof. Wawan membawa kita pada sebuah kontemplasi menarik. Jika dulu ia berkutat dengan silabus dan akreditasi, kini ia berhadapan dengan data kemiskinan yang telanjang.

Jejak Syukur di Yabunaya: Milad Prof. Wawan & Ikhtiar BAZNAS Banten

“Zakat bukan sekadar urusan memindahkan uang dari tangan kaya ke tangan miskin,” tuturnya suatu kali. Di matanya, zakat adalah instrumen teologis yang harus menjadi solusi sosiologis.

Tahun 2025 menjadi masa konsolidasi internal yang melelahkan namun memuaskan. Ia berhasil menyuntikkan napas akademis ke dalam birokrasi zakat: audit yang presisi, digitalisasi sistem, hingga keterbukaan informasi. Ia ingin masyarakat Banten melihat BAZNAS bukan sebagai “kotak amal raksasa,” melainkan sebagai mitra pembangunan yang kredibel.

Menatap 2026: Zakat yang Membebaskan

pelantikan baznas BantenKini, menapaki tahun 2026, Prof. Wawan tidak lagi bicara tentang fondasi; ia bicara tentang struktur. Visinya tajam: ia ingin menyasar ekosistem digital. Ia sadar, Banten adalah provinsi dengan pertumbuhan industri dan kreator konten yang masif. Maka, narasi “Zakat Digital” yang ia usung bukan sekadar soal aplikasi pembayaran, melainkan soal menyentuh kesadaran generasi Z dan milenial di Tanah Jawara.

“Kita tidak bisa lagi menunggu mustahik di kantor yang dingin. Kita harus menjemput bola, membasuh luka kemiskinan langsung di sumbernya,” ungkapnya dalam catatan refleksi di laman pribadinya.

Tahun ini, fokusnya adalah transformasi. Ia terobsesi mengubah mustahik (penerima zakat) menjadi munfiq (pemberi infak) melalui program pemberdayaan ekonomi kreatif. Baginya, keberhasilan BAZNAS bukan diukur dari berapa miliar yang dihimpun, tapi berapa banyak keluarga yang berhasil “mentas” dari garis kemiskinan.

Epilog: Pengabdian Tanpa Tepi

Memasuki usia ke-64, ada ketenangan yang berbeda dalam sorot matanya. Prof. Wawan seolah sedang menulis bab paling emosional dalam biografi hidupnya. Dari ruang kelas menuju ruang-ruang sempit di pinggiran Banten, ia membuktikan bahwa pengabdian tidak mengenal kata pensiun.

2026 adalah pembuktian. Di bawah nakhoda seorang profesor yang rendah hati ini, kita berharap BAZNAS Banten bukan hanya sekadar lembaga, tapi menjadi gerakan kebudayaan yang memanusiakan manusia.

https://wawanwahyuddin.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*