Prof Wawan Wahyuddin

Haji 2026: Membasuh Luka Bumi

Oleh: Prof. Dr. Wawan Wahyuddin, M.Pd., Ketua Baznas Banten

Haji 2026: Membasuh Luka Bumi | Prof. Dr. Wawan WahyuddinHaji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah, melainkan perjalanan Tauhid yang melintasi batas-batas ritual. Di tengah hiruk-pikuk era global, setiap prosesi haji adalah pengingat bahwa hanya Allah Sang Pemilik Kedaulatan Mutlak. Maka, kemabruran haji tahun 2026 harus mewujud dalam ketundukan seutuhnya pada aturan Allah yang menjaga keseimbangan antara penghambaan ritual dan tanggung jawab kemanusiaan.

Pesan Ketundukan dari Sehelai Daun

Saat kain Ihram melekat di tubuh, sebuah ketetapan Allah berlaku sangat disiplin: sehelai daun pun haram dipetik, bahkan seekor semut pun dilarang disakiti. Inilah ujian ketaatan seorang hamba. Jika untuk satu ranting kecil di Tanah Suci saja kita wajib tunduk pada aturan-Nya, maka betapa besarnya pengkhianatan bagi mereka yang dengan congkak merusak hutan dan menghancurkan ekosistem ciptaan Allah.

Menjaga bumi adalah manifestasi Tauhid; sebuah pengakuan bahwa alam ini adalah amanah, bukan milik manusia untuk dirusak semena-mena demi ambisi materi. Haji mabrur harus melahirkan manusia yang menjadi pelindung kelestarian alam—darat, laut, dan udara.

Thawaf: Poros Hidup yang Tak Boleh Kendor

Saksikanlah jutaan manusia bergerak melingkar, tujuh kali mengelilingi Ka’bah. Inilah simbol bahwa Allah adalah pusat dari segala pergerakan hidup kita. Angka tujuh ini melambangkan siklus satu pekan kehidupan. Pesannya sederhana namun mendalam: dalam tujuh hari perjalanan hidup, dari Senin hingga Minggu, jangan pernah kendor dalam dzikir dan ketaatan. Integritas ketauhidan tidak boleh luntur meski kain ihram telah dilepas dan kita kembali ke rutinitas dunia.

Genderang Zamzam: Revolusi Konsumsi Halal

Meminum air Zamzam adalah deklarasi kemandirian. Di jantung Makkah, “genderang global” dibunyikan untuk seluruh penghuni bumi: hanya masukkan yang halal dan thoyyib ke dalam tubuh. Ini adalah komitmen Tauhid untuk menolak harta hasil korupsi, hasil rampasan, atau segala bentuk harta haram yang menindas sesama. Kita hanya meminum dan memakan apa yang diridhai Allah, sebagai bentuk menjaga kesucian jiwa dan raga.

Haji 2026: Membasuh Luka Bumi | Prof. Dr. Wawan Wahyuddin

Jumrah: Melempar Sifat Syaithoniyah

Di Mina, kita melempar batu bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban, tapi untuk meruntuhkan “berhala-berhala” di dalam hati. Kita melempar jauh-jauh sifat pelit, bakhil, iri, dengki, hingga kesombongan yang seringkali membuat manusia durhaka pada orang tua.

Bagi mereka yang pulang, kerikil jumrah adalah simbol perlawanan terhadap setan korupsi. Haji yang mabrur adalah haji yang bersih hatinya dari sifat-sifat syaithoniyah yang merusak tatanan keadilan sosial di tanah air.

Sa’i: Keringat Modernitas dalam Bingkai Dzikir

Lari-lari kecil antara Shafa dan Marwah mengajarkan etos kerja dan disiplin fisik. Muslim di era global harus tangguh secara fisik, unggul secara ekonomi, dan menguasai teknologi (Poleksosbudhankam). Namun, kaki yang berlari kencang mengejar kemajuan duniawi itu tidak boleh lepas dari lisan yang senantiasa berdzikir. Kita mengejar kemajuan untuk memuliakan agama Allah, bukan untuk menjadi robot yang kehilangan nurani.

Satu Saf Menuju Al-Aqsa

Puncak dari ketauhidan adalah persatuan umat. Gembok Masjidil Aqsa yang kini terkunci oleh kezaliman tidak akan terbuka oleh kunci yang berkarat karena perpecahan. Gembok itu hanya akan terbuka jika gembok hati kita juga terbuka untuk bersatu melampaui sekat sektarian. Menjaga marwah dan stabilitas kekuatan di kawasan adalah syarat mutlak agar fokus perjuangan pembebasan Palestina tidak terpecah oleh ego kelompok.


Penutup: Kepulangan Sang Pembaharu

Haji 2026 harus melahirkan “Manusia Baru” yang memiliki integritas Tauhid yang baja. Mereka pulang dengan tiga komitmen besar:

  1. Integritas: Melawan korupsi dan sifat buruk dalam diri sebagai bukti nyata kesucian jiwa.

  2. Ekologi: Menjadi pelindung lingkungan hidup sebagai bentuk ketaatan pada syariat Allah.

  3. Solidaritas: Berdiri tegak membela kemerdekaan Palestina melalui profesi dan daya masing-masing.

Dunia harus merasakan manfaat dari kehadiran para Haji. Jika para penzalim tidak merasa gentar dengan integritas kita sekembalinya dari Tanah Suci, barangkali kita perlu bertanya pada hati sendiri:

Sudahkah haji kita benar-benar mabrur?

https://wawanwahyuddin.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*