Bayangkan seorang anak dua belas tahun, untuk pertama kalinya jauh dari orang tuanya, berdiri canggung di depan gerbang sebuah pondok pesantren di Ponorogo. Ia belum tahu apa yang menantinya. Yang ia tahu hanya satu: hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Adegan itu terulang puluhan ribu kali sepanjang seratus tahun terakhir, sejak Pondok Modern Darussalam Gontor dideklarasikan pada 20 September 1926, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi. Tahun ini, ketika Gontor merayakan satu abad perjalanannya, ada satu hal yang layak kita renungkan bersama—bukan gedung-gedungnya yang megah, bukan pula kedisiplinan santrinya yang legendaris, melainkan orang-orang yang pernah keluar dari gerbang itu: para alumninya.

Dari Anak yang Digembleng, Menjadi Manusia yang Menggembleng

Kalau kita bicara soal Gontor, bayangan yang muncul biasanya seragam: asrama berjejer, santri fasih berbahasa Arab dan Inggris, kedisiplinan yang nyaris tanpa kompromi. Di balik citra itu, ada satu siklus yang justru lebih menentukan wajah Gontor selama seratus tahun ini, dan kerap luput dari sorotan: dibesarkan, lalu membesarkan.

Siklus ini bahkan sudah dimulai jauh sebelum ada satu pun santri yang lulus. Saat mendeklarasikan Gontor pada 1926, ketiga pendirinya—yang kemudian dikenal sebagai Trimurti: KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fannani, dan KH. Imam Zarkasyi—sendiri masih sangat muda. Yang tertua baru berusia 25 tahun, yang bungsu bahkan baru 16 tahun. Tiga bersaudara ini nekat membangun sebuah cita-cita besar tanpa modal apa pun selain keyakinan.

KH. Imam Zarkasyi sendiri pernah menegaskan bahwa Trimurti mendirikan pondok ini bukan dengan modal ijazah. Artinya, jauh sebelum melahirkan alumni, Gontor lebih dulu lahir dari tangan anak-anak muda yang berani membesarkan diri mereka sendiri.

Dari titik itulah generasi demi generasi santri kemudian ditempa: bukan sekadar diajari menghafal pelajaran, melainkan dibentuk lewat lima nilai dasar yang di Gontor dikenal sebagai Panca Jiwa—keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian (berdikari), ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Kelima jiwa ini bukan sekadar semboyan di dinding, melainkan cara hidup yang dilatih setiap hari: mengurus diri sendiri, menghargai waktu, dan menganggap sesama santri—apa pun suku dan latar belakangnya—sebagai saudara sendiri.

Namun, bagian paling menarik dari kisah Gontor bukan terjadi saat para santri masih berada di dalam pondok, melainkan saat mereka lulus, menyandang status alumni, dan terjun ke tengah masyarakat. Di titik inilah peran alumni benar-benar diuji: apakah nilai-nilai yang ditanamkan bertahun-tahun tumbuh menjadi manfaat nyata, atau malah berhenti sebagai kenangan masa muda?

Alumni yang Tersebar, Manfaat yang Menyebar

Pernahkah Anda bertemu alumni Gontor di lingkungan sekitar? Kemungkinan besar jawabannya iya, sebab jejak mereka memang tersebar luas—dan lintas zaman. Dari generasi awal, nama seperti Idham Chalid dan Nurcholish Madjid mewarnai wacana keislaman dan kebangsaan Indonesia. Generasi berikutnya melahirkan Hidayat Nur Wahid dan Lukman Hakim Saifuddin yang berkiprah di panggung kenegaraan, juga Ahmad Fuadi yang lewat novel Negeri 5 Menara memperkenalkan dunia pesantren kepada jutaan pembaca. Dari Gontor Putri, lahir pula para diplomat dan akademisi yang membuktikan bahwa perjalanan “dibesarkan dan membesarkan” ini bukan monopoli santri putra.

Tetapi nama-nama besar itu hanyalah minoritas kecil. Mayoritas alumni Gontor adalah orang-orang yang tidak pernah muncul di media: pengusaha kecil yang membuka lapangan kerja untuk tetangganya, guru madrasah di kampung yang gajinya jauh dari kata layak, karyawan biasa yang jujur di tempat kerjanya, atau orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan nilai yang sama seperti yang dulu mereka terima di Gontor. Merekalah wajah mayoritas alumni Gontor yang sebenarnya—dan justru pada merekalah makna “membesarkan” paling nyata diuji, sebab tidak ada panggung yang menyorot, tidak ada tepuk tangan yang menyertai.

Sebagian alumni memilih pulang kampung dan merintis pesantren sendiri. Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) pernah mencatat ratusan pesantren di Indonesia—bahkan hingga mancanegara—yang didirikan dan diasuh oleh alumni Gontor, sebuah jaringan yang terus menambah setiap tahunnya. Sebuah bukti nyata bahwa satu pohon besar mampu menumbuhkan ratusan tunas baru di ladang yang berbeda-beda.

Tidak sedikit pula lulusan Gontor yang melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seperti UIN atau IAIN. Di kampus-kampus inilah para alumni memadukan bekal ilmu agama khas pesantren—penguasaan kitab kuning dan kemampuan berbahasa yang kuat—dengan cara berpikir ilmiah modern yang terbuka terhadap perkembangan zaman. Merekalah jembatan yang membuat ajaran Islam terasa sejuk, moderat, dan membumi di tengah masyarakat yang majemuk, sekaligus bukti bahwa tradisi pesantren dan dunia akademik modern bukan dua kutub yang berlawanan.

Peran alumni di PTKIN sesungguhnya tidak berhenti pada penguasaan ilmu agama dan sains semata. Sebagaimana perguruan tinggi besar seperti Universitas Indonesia (UI) bisa tumbuh kokoh justru karena peran aktif jaringan alumninya, alumni Gontor yang berkiprah di kampus-kampus itu pun mengemban tugas serupa: merawat ukhuwah islamiyah, ukhuwah basyariah, dan ukhuwah wathaniyah sekaligus—persaudaraan sesama muslim, sesama manusia, dan sesama warga bangsa. Kehadiran mereka diharapkan menghadirkan suasana kampus yang teduh, bukan gaduh, di tengah iklim akademik yang kerap diwarnai perbedaan pandangan. Dan barangkali di situlah letak tantangan alumni ke depan: saatnya go global, bukan gombal—menembus panggung dunia lewat karya dan kontribusi yang nyata, bukan sekadar klaim dan wacana besar tanpa bukti.

Prinsip Sederhana yang Terus Dijaga

Di titik inilah proses membesarkan benar-benar terjadi, dan di sanalah peran alumni menemukan makna terdalamnya. Mantan santri yang dahulu datang sebagai anak-anak pemalu, kini kembali ke tengah masyarakat untuk menghidupkan lingkungan mereka masing-masing—mendirikan madrasah, menggerakkan kegiatan sosial, menjadi penengah yang bijak di tengah warga, atau mencerdaskan generasi muda lewat dunia kampus dan dunia usaha.

Dua pesan yang selalu diwariskan Trimurti, khususnya KH. Imam Zarkasyi, kepada setiap angkatan santri, seolah dibuat untuk momen seperti ini:

“Hidup-hidupilah Gontor, jangan mencari penghidupan di Gontor.”
“Berjasalah, tapi jangan minta jasa.”

Dua pesan sederhana, namun dalam maknanya: jadilah alumni yang memberi manfaat seluas-luasnya, bukan sebaliknya, membebani masyarakat di sekitarnya, apalagi mengharapkan balas jasa atas kebaikan yang ditebar. Prinsip inilah yang membuat jaringan alumni Gontor—tersebar di berbagai profesi dan daerah, dari pengasuh pesantren hingga pelaku usaha, dari birokrat hingga orang tua di rumah—tetap terikat oleh semangat yang sama, meski jalan hidup mereka berbeda-beda.

Satu Abad, Satu Perenungan Bersama

Prinsip itu tidak hanya hidup dalam nasihat, tapi juga terlihat nyata sepanjang perayaan satu abad Gontor tahun ini. Rangkaian peringatannya sudah bergulir sejak 2023, ditandai dengan Sujud Syukur yang dihadiri puluhan ribu santri dan tokoh lintas ormas, dan akan mencapai puncaknya sepanjang 2026 ini—mulai dari pertemuan akbar para alumni, pertunjukan seni kolosal, hingga kunjungan para tokoh dan ulama ke kampus pusat di Ponorogo. Diperhatikan lebih dekat, di hampir setiap rangkaian acara itu, alumnilah yang menjadi penggeraknya—menyiapkan panggung, menyambut tamu, sekaligus merayakan bersama pondok yang telah membesarkan mereka.

Di balik seluruh kemeriahan itu, inti dari perayaan ini bukan pesta besar atau reuni lintas generasi, melainkan sebuah muhasabah bersama—khususnya bagi para alumni, di mana pun mereka berada, apa pun profesi dan jabatannya hari ini. Sudahkah kita cukup memberi manfaat? Sudahkah ilmu yang kita dapatkan benar-benar berbuah kebaikan bagi sesama? Pertanyaan sederhana ini justru yang paling sulit dijawab, sebab jawabannya bukan terletak pada seberapa besar acara yang digelar, melainkan pada seberapa nyata dampak yang dirasakan orang-orang di sekitar kita—tetangga, murid, karyawan, atau jamaah yang setiap hari berinteraksi dengan kita.

Dan untuk alumni yang mungkin sedang membaca tulisan ini sambil merasa dirinya belum banyak berbuat—yang usahanya belum juga besar, yang kariernya biasa saja, yang bahkan sedang berjuang menutupi kebutuhan sehari-hari—perlu ditegaskan: prinsip “hidup-hidupilah Gontor” tidak pernah menuntut ukuran kesuksesan duniawi. Ia hanya menuntut ketulusan sekecil apa pun bentuknya. Mengasuh anak dengan sabar, jujur dalam pekerjaan sekecil apa pun, atau sekadar tidak menyerah menjalani hidup dengan cara yang baik—itu pun sudah menunaikan amanah yang sama dengan yang dipikul alumni di panggung besar. Satu abad ini bukan hanya milik mereka yang berhasil gemilang, tapi juga milik mereka yang terus bertahan dan tetap berusaha jujur di tengah kesulitan.

Warisan yang Terus Hidup

Ada satu fakta sejarah yang jarang diketahui, padahal justru itulah inti dari semua yang ditulis di atas: pada 12 Oktober 1958, Trimurti resmi mewakafkan seluruh Pondok Modern Darussalam Gontor—tanah, bangunan, hingga sistem pendidikannya—dan menyerahkan amanah menjaganya kepada IKPM, organisasi yang mewadahi para alumninya sendiri.

Sejak hari itu, Gontor bukan lagi aset pribadi atau warisan yang bisa diturunkan dalam satu keluarga, melainkan wakaf—harta yang secara syariat sudah dilepaskan kepemilikannya untuk selamanya demi kepentingan umat. Kalimat “Gontor adalah milik umat” karena itu bukan sekadar kiasan yang manis didengar. Ia adalah konsekuensi hukum yang sengaja dipilih oleh tiga pemuda yang dulu membangunnya tanpa modal apa pun selain keyakinan.

Warisan seperti itulah yang kini ada di tangan setiap alumni, dari angkatan paling senior hingga yang baru saja lulus tahun ini. Dan selama siklus “dibesarkan dan membesarkan” itu terus berjalan—lewat tangan yang mendirikan pesantren di pelosok negeri, yang mengajar di ruang-ruang kuliah, yang membuka usaha dan memberi kerja, atau yang sekadar menjadi tetangga yang baik dan amanah—selama itu pula mata air kebaikan Gontor tidak akan pernah kering.

Barangkali, di situlah letak seratus tahun yang sebenarnya: bukan pada satu abad yang telah lewat, melainkan pada abad berikutnya, yang kini ditentukan oleh kita, para alumninya—apa pun usia, jabatan, dan jalan hidup yang kita pilih.